Senin, 21 Januari 2013

Negeri 5 Menara



Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Editor :
Cetakan :
Tebal : 432 halaman

Sebelumnya saya pernah review disini

Tentang seorang pemuda bernama Alif Fikri asal kampung liliput di pinggiran Danau Maninjau Bayur Sumatra Barat. Ayahnya seorang guru matematika di madrasah dan amak seorang guru SD. Karna keinginan amakya yang menginginkan anak lelakinya menjadi seorang pemimpin agama kelak di kemudian hari, amaknya menginginkan Alif masuk sekolah Agama. Karna keinginan kuat sang amak mau tidak mau Alif mengubur niatnya yang sudah menjadi cita-cita serta keinginanya untuk melanjutkan kesekolah SMA dan kuliah di ITB yang sudah di idam-idamkannya bersama sahabanya Randai.

Dengan niat setengah hati Alif akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan amaknya tapi pilihannya adalah untuk tidak masuk Madrasah di Sumatra Barat melainkan Alif memilih mondok di Pondok Madani yang terletak di Jawa Timur. Karna info dari Eteknya kalau anak-anak lulusan Pondok Madani banyak yang sukses dan bisa sampai ke Mesir. Semoga pilihanku tak salah kata Alif.

Dengan menempuk jarak jauh dari sumatra barat ke Jawa Timur menggunakan Bas akhirnya sampai juga Alif di tempat tujuan. Mengikuti Tes , dan lulus ujian dan di terima sebagai murid resmi di Pondok Madani. Begitulah tinggal di pesantern hari-hari yang di lalui hanyalah belajar, belajar dan belajar. Belum lagi harus bangun malam, hafalan, pidato dan banyak lagi yang begitu menguras otak. Bahasa sehari-hari yang dipergunakan adalah bahasa arab, bahasa inggris. Bila didapati ketahuan menggunakan bahasa indosesia atau bahasa daerah maka hukuman tanpa ampun didapat oleh siswa. Meskipun butuh process dan waktu akhirnya semua itu bisa terlaksana akibat terbiasa meskipun masih belum fasih. Untuk mandi dan makan selalu saja ikut antrian jadi tak jarang waktu terbuang oleh siswa meskipun dalam antrian di sempatkan sambil membaca buku.

Alif begitu sangat kompak dengan ke 5 teman seperjuannya di Pondok Madani yang berbeda asal yaitu Atang asal Bandung, Raja asal Medan, Said asal Surabaya , Dulmaji asal Madura dan Baso asal Sulawesi. Tapi meskipun mereka berbeda suku mereka selalu saja kompak dan kemana-mana bersama. Mereka memiliki keahlian yang berbeda karna itu mereka selalu melengkapi antara kekurangan yang satu dengan yang lainnya. Susah senang bersama-sama.

Kata ampuh yang menjadi pedoman mereka untuk tetap selalu semangat yaitu “ MAN JADDA WAJADA “, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Meskipun di hari pertama mereka sudah mendapatkan hukuman tetapi tidak mematahkan niat mereka yaitu untuk menuntut Ilmu.
Alif yang terkadang selalu goyah, keinginan untuk menggunakan seragam abu-abu selalu saja menjadi patah semangatnya dia belajar, ditambah lagi cerita-cerita menarik dari sahabatnya Randai membuat dia menjadi cemburu. Tapi ada hal yang membuat dia menjadi semangat yaitu ketulusan hati dan iklas maka kita dapat menjalankan sehari-hari berakhir dengan baik. 

Tempat tongkrongan favorid mereka mendiskusikan baik itu tentang cita-cita, kesehariannya adalah di kaki menara Masjid Jami Pondok Madani. Disinilah mereka selalu berkumpul sambil menunggu waktu magrib tiba. Sampai-sampai mereka di juluki Sohibul Menara. Karna tempat yang strategis dan mudah untuk sampai menuju mesjid.

Hingga sampai akhir tahun ujian di kelas 6 atau taman SMA , Baso teman yang pintar harus mengiklaskan dirinya untuk tidak mengikuti ujian karna neneknya sedang sakit. Berpisahlah mereka dengan Baso yang kembali ke kampung halaman untuk mengabdi kepada neneknya setelah kedua orang tuanya meningggal, dan Baso menjadi guru serta melanjutkan hafalannya dengan seorang ustad di kampungnya. Karna tujuan utama Baso adalah dapat menghafal luar kepala dan isi dari Al Quran tersebut...yaitu untuk di berikan kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada. 

11 tahun kemudian mereka bertemu di kaki menara Trafalgar Square London. Sebuah awan yang selalu mereka angankan adalah negara-negara yang mereka kagumi dan impikan akhirnya dapat mereka raih dengan usaha dan kerja keras. Atang yg sudah 8 tahun tinggal di kairo menjadi mahasiswa program doktoral ilmu hadis Al Azhar. Raja yang sudah 1 tahun di London setelah menyelesaikan kuliah hukum islam S1 Madinah. Sementara 3 sahabatnya di Indonesia yaitu Dulmaji dengan cita-citanya mendirikan sebuah pondok di surabaya , Said meneruskan usaha keluarganya dan Baso anak yang pintar mendapat beasiswa dengan modal hafal luar kepala isi Al Quran ke Arab Saudi.
Apa yang menjadi impain mereka “ kun fa yakun “ maka semua menjadi nyata....karna siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil....itulah kata pedoman mereka ketika berada di Pondok Madani.


5 komentar:

  1. makasih yaa,sampe sampe guru saya pake buat dibikin tugas wkwkwk

    BalasHapus
  2. makasih buat tugas wkwk

    BalasHapus
  3. Alur film nya tidak jelas, endingnya terlalu dipaksakan. Intriknya juga minim dan tidak menarik. Jauh dibandingkan Sang Pemimpi / Laskar Pelangi.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya, dan saya lebih berterima kasih lagi bila sahabat yang cantik dan keren dapat memberikan masukan pada postingan ini. Ojo Laliiii Yoooo...* sedikit aja.